
Tahap-Tahap dalam Proses Menghafal Secara Umum
Dalam buku karangan Ridhoul Wahidi yang berjudul Hafal Al-Quran Meski Sibuk Sekolah menjelaskan tentang bagaimana tahap menghafal Al-Quran secara umum dan yang sering digunakan oleh orang banyak, yaitu:
1. Membaca Ayat yang akan dihafal di hadapan Ahli Al-Quran
Pada tahap ini, seseorang yang akan menghafal Al-Quran membacakan ayat-ayat yang akan dihafalkannya kepada seorang guru Al-Quran, membacanya dengan tartil, tidak menghilangkan hak-hak ayat, memperhatikan kapan harus berhenti dan kapan menyambung ayat (al-waqfu wal-ibtida’). Setelah selesai , baca kembali hingga tidak ada kesalahan, baik dari makharijul huruf, lafal, dan urutan ayat-ayatnya. Untuk membantu mempercepat hafala, kita dapat membaca terjemahan ayat-ayat yang dihafal.
2. Menghafal Ayat-Ayat
Mulailah menghafal satu ayat sampai benar-benar hafal dan benar kaidah-kaidahnya, lanjutkan satu ayat lagi sampai benar-benar hafal, kemudian gabungkan dua ayat tersebut sampai lancar, begitu seterusnya sampai target yang diinginkan. Setelah sampai pada target yang dicanangkan, ulang kembali seluruh ayat yang dihafal sampai benar-benar lancar. Ulangi sampai dua puluh kali atau lebih, agar hafalan benar-benar melekat dan ada gambaran susunan ayat yang dihafal.
3. Setoran
Pada Tahap ini, hafalan sudah matang dan tidak ada kesalahan. Jangan menyetorkan hafalan yang masih setengah hafal. Karena akan menyulitkan diri saat di hadapan guru. Sebelum menghadap guru untuk menyetorkan hafalan, persiapkan hafalan dengan cara membaca dengan melihat mushaf satu sampai tiga kali untuk memastikan kembali bahwa ayat yang telah dihafal tidak ada kesalahan.
4. Mengulang Hafalan
Mengulang-ulang hafalan bisa dilakukan sendiri atau bisa diulang bersama dengan teman lain. Caranya adalah satu teman membaca sementara teman yang lain mendengarkan dan bergantian, jika ada kesalahan akan ada koreksi, pengulangan ini bisa ayat per ayat, setengah lembar atau sesuai dengan keinginan masing. Proses ini membantu memperbaiki bacaan dan memperbagus kualitas hafalan sehingga hafalannya melekat. Setelah mengulang hafalan baru, gabungkan dengan hafalan-hafalan sebelumnya untuk mengaitkan hafalan baru tersebut. Proses penggabungan ini dilakukan sesering mungkin untuk merangkai ayat-ayat dalam benak pikiran kita, sehingga susunan ayat tidak terpisah-pisah. Selain itu, proses ini untuk membenahi ayat-ayat yang mungkin belum tepat, baik dari segi harakat, waqof, dan makhorijul huruf .
5. Pemantapan
Tahapan akhir adalah memantapkan hafalan. Setelah empat tahapan diatas dilalui, maka ulangi hafalan yang baru dihafal sebanyak tiga sampai lima kali tanpa memegang mushaf. Tahap ini dilakukan untuk menegaskan bahwa hafalan kita benar-benar telah melekat di otak dan telah menyatu di hati.[1]
Memperbanyak ulangan terhadap ayat-ayat yang telah dihafal menjadi alternatif utama untuk tetap dapat menjaga hafalan ayat-ayat Al-Quran dalam ingatan. Karena pada dasarnya hafalan ini terjadi karena kebiasaan atau terbiasanya lisan mengucapkan kalimat-kalimat tertentu, dalam hal ini adalah ayat-ayat Al-Quran. Oleh karena itu hendaknya, waktu mempelajari dan mengulang dibagi secara teratur. Karena mengulang-ulang, menghafal nash-nash Al-Quran dengan membacanya secara teratur akan meneguhkan konsentrasi relatif lebih lama.[2]
Kaitannya dengan pembelajaran tahfidz Quran, jelaslah bahwa pengulangan-pengulangan bacaan ayat-ayat Al-Quran yang dilakukan ketika menghafal akan lebih melekat dan memperkuat koneksi antar neuron, semakin sering ayat-ayat Al-Quran dihafal, maka semakin kuat sinyal dalam neuron, artinya ketika terjadi proses pemanggilan informasi dari memori, pemanggilan tersebut tidak akan terhambat karena lupa, sehingga ayat-ayat Al-Quran dapat diucapkan secara lancar karena benar-benar hafal.[3]
Metode-Metode khusus dalam Menghafal Al-Quran
Metode tidak boleh diabaikan dalam proses pelaksanaan menghafal Al-Quran, karena metode akan ikut menentukan berhasil atau tidaknya tujuan menghafal Al-Quran. Semakin baik metode yang digunakan, maka semakin efektif dan efisien dalam menggapai keberhasilan dan tujuan mengahafal. Dalam menghafal Al-Quran terdapat banyak metode yang dapat digunakan, bahkan disetiap negara memiliki metode menghafal Al-Quran masing-masing.
Dibawah ini akan diuraikan tentang metode-metode yang familier, metode yang secara khusus sering diterapkan dan lazim digunakan dalam menghafal Al-Quran yaitu:
a. Metode Tahfidz
Yang dimaksud metode ini,dimana sebelum penghafal menyetorkan hafalannya pada kyai, kepada mudhir ,mustahik atau kepada seseorang yang telah di otoritas untuk menyimaknya,maka penghafal harus melafalkan sebelum disimakkan pada kyai, mudhir dan lain-lain, sebagaimana penjelasan berikut:
1. Terlebih dahulu penghafal melihat mushaf (bin nadzar) sebelum disetorkan pada kyai tentang materi hafalannya.
2. Setelah di baca dengan melihat pada mushaf dan terus ada bayangan,kemudian di baca dengan tanpa melihat mushaf minimal 3 kali dalam satu kalimat, dan maksimal tidak terbatas. Apabila tidak ada bayangan maka harus ditingkatkan sampai menjadi hafal betul.
3. Apabila dalam satu kalimat itu sudah ada bayangan,maka di tambah lagi hafalannya sehingga sempurna menjadi satu ayat. Materi-materi baru ini selalu dihafalkan sebagaimana penghafal dalam materi pertama tadi, kemudian mengulang-ualng kembali pada hafalan yang udah terlewati, minimal empat kali maksimal tidak terbatas sampai benar-benar hafal.Apabila dalam satu materi itu tidak hafal,maka tidak boleh pindah pada meteri berikutnya.
4. Setelah materi satu ayat ini dikuasai hafalannya dengan hafalan yang benar-benar lancar, maka diteruskan dengan menambah materi baru dengan membaca atau melihat(bin nadzar) terlebih dahulu dan mengulang seperti pada materi pertama. Setelah ada bayangan lalu dilanjutkan dengan membaca tanpa melihat sampai benar-benar hafal sebagaimana menghafal ayat pertama.
5. Sesudah mendapat hafalan ayat dengan baik dan lancar tidak terdapat kesalahan lagi, maka hafalan tersebut diulang-ulang mulai dari ayat pertama ditingkatkan ke-2 minimal 3 kali dan maksimal tidak terbatas. Begitu pula ketika menginjak ayat-ayat berikutnya sampai ke batas waktu yang telah ditargetkan.
5. Setelah materi yang ditentukan menjadi hafal dengan baik dan lancar, kemudian disetorkan pada kyai atau kepada orang yang di beri otoritas untuk disimakkan hafalannya serta mendapatksn petunjuk-petunjuk dan bimbingan seperlunya.
6. Pada hari kedua,penghafal mengajukan hafalan barunya kepada kyai atau kepada orang yang di beri wewenang dan seterusnya.[4]
b. Metode Takrir atau Takrar
Takrar adalah mengulang hafalan atau memperdengarkan hafalan yangpernah dihafalkan dan sudah pernah disimakkan pada guru tahfiz. Takrar dimaksudkan agar hafalan yang pernah dihafal tetap terjaga dengan baik. Selain guru, takrar juga dilakukan dengan sendiri-sendiri dengan maksud melancarkanhafalan yang telah dihafal, sehingga dengan tidak mudah lupa. Misalnya, pagi hari menghafal materi hafalan baru, dan sore harinya mentakrirkan materi baru yang telah dihafalkan.[5]
Metode ini merupakan suatu metode untuk mengulang-ulang hafalan, Jadi metode takrir ini sangat penting sekali diterapkan, karena menghafalkan serta menjaga hafalan merupakan suatu kegiatan yang sulit dan kadangkala terjadi kebosanan. Sangat dimungkinkan sekali suatu hafalan yang sudah baik dan lancar menjadi tidak lancar atau bahkan menjadi hilang sama sekali. Sewaktu takrir, materi yang diperdengarkan kehadapan instruktur harus selalu seimbang dengan tahfidz yang sudah dikuasainya. Jadi tidak boleh terjadi bahwa tahfidz yang telah di hafalkan, jauh ketinggalan dari yang dihafalnya dengan metode takrir. Tepatnya materi tahfidz satu juz yang terdiri dari dua puluh halaman, maka dalam menghafalkan dengan metode Takrir harus mendapat imbangan sekira tidak memberatkan bagi seorang hafidz, demikian seterusnya. Dan apabila materi satu juz itu sudah mendapat imbangan, umpama tahfidznya sudah mendapat dua puluh halaman, maka kesempatan untuk menghafal Al-Qur’an dengan metode Takrir bisa ditambahkan sesuai dengan kebutuhan.[6]
Takrir sebagian dari proses menghafalkan Al-Qur`an yang juga sebagai kunci keberhasilan dari semua yang diusahakan dalam menghafalkan dan menjaga hafalan Al-Qur`an pada diri seseorang. Menghafalkan Al-Qur’an dengan metode Takrir itu mudah dan efisien, itu harus imbangi dengan usaha pengulangan secara ketat, karena kalau hafalan yang sudah ada tidak akan bertahan lama dan akan sia-sia jikalau pemelihara’an tidak dilaksanakan. Karena hal yang telah dihafalkan tadi akan tertimbun dengan hafalan yang baru dan begitu seterusnya. Sedangkan kunci keberhasilan menghafal Al-Qur`an adalah mengulang-ulang hafalan yang dihafalkannya yang disebut “takrir”.[7]
Metode takrar ini pada prinsipnya bersifat lebih santai, tanpa harus lebih mencurahkan seluruh pikiran. Oleh sebab itu sebelum memulai mengahafal al-Qur’an, perlu dibaca secara berulang-ulang ayat-ayat yang akan dihafal. Jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan. Sebagian penghafal melakukannya sebanyak 35 kali pengulangan, setelah itu baru mulai dihafal. Bagi kalangan anak-anak, guru mengulang-ulang bacaan, sedangkan anak-anak atau murid menirukannya kata per kata dan kalimat per kalimat, juga secara berulangulang sehingga benar-benar terampil dan benar. Cara yang demikian memberikan kemudahan khusus dalam merekam ayat-ayat tersebut. Meski demikian, cara ini juga memerlukan kesabaran ekstra karena akan memakan waktu yang sangat banyak.[8]
Adapun terkait dengan penerapan metode takrār terhadap hafalan yang sudah pernah dihafal, cara seperti ini tergantung pada tingkat kemapanan suatu hafalan dan terletak pada pelekatan ayat-ayat yang dihafal seseorang. Semakin banyak pengulangan, maka semakin kuat melekat hafalan itu dalam ingatannya, lisanpun akan membentuk gerak reflek. Semakin intensif mengulang, maka kecakapan dan pengetahuan yang dimilikinya dapat menjadi semakin dikuasai dan makin mendalam.[9] Sebaliknya semakin minim dalam mengulang, maka dapat membuat bacaan al-Qur’an tidak lancar.[10]
c. Metode Kitabah
Metode kitabah adalah menuliskan kembali ayat-ayat Al-Qur‟an yang sudah dihafal. Metode kitabah adalah menghafal dengan cara menulis ayat-ayat yang akan dihafalkan pada secarik kertas, kemudian ayat-ayat tersebut dibaca lalu dihafalkan. Pada metode ini siswa terlebih dahulu menulis ayat-ayat yang akan dihafalnya pada secarik kertas yang telah disediakan untuknya, kemudian ayat-ayat tersebut dibacanya sehingga lancar dan benar bacaannya, lalu dihafalkannya.[11] Menghafalnya bisa juga dengan metode wahdah atau dengan berkali-kali menuliskannya sehingga dengan berkali-kali menuliskannya iadapat sambil memperhatikan dan sambil menghafalnya dalam hati.[12]
d. Metoda Wahdah
Yang dimaksud dengan metode ini,yaitu menghafal satu persatu terhadap ayat-ayat yang hendak dihafalkannya. Sebagai awal, setiap ayat dibaca sepuluh kali atau lebih, sehingga proses ini mampu membentuk pola dalam bayangannya. Setelah benar-benar hafal barulah dilanjutkan pada ayat-ayat berikutnya dengan cara yang sama, demikian seterusnya hingga mencapai satu muka dengan gerak reflek pada lisannya. Setelah itu dilanjutkan membaca dan mengulang-ulang lembar tersebut hingga benar-benar lisan mampu memproduksi ayat-ayat dalam satu muka tersebut secara alami,atau reflek dan akhirnya akan membentuk hafalan yang representatif.[13]
e. Metode Gabungan
Metode ini merupakan gabungan antara metode ketiga dan keempat, yakni metode wahdah dan metode kitabah. Hanya saja kitabah (manulis) di sini lebih memiliki fungsional sebagai uji coba terhadap ayat-ayat yang telah dihafalnya. Maka dalam hal ini, setelah penghafal selesai menghafal ayat yang dihafalnya, kemudian ia mencoba menulisnya di atas kertas yang telah disediakan untuknya dengan hafalan pula. Setelah ia telah mampu mereproduksi kembali ayat-ayat yang dihafalnya dalam bentuk tulisan, maka ia melanjutkan kembali untuk menghafal ayat-ayat berikutnya, tetapi jika penghafal belum mampu, mereproduksi hafalannya kedalam tulisan secara baik, maka ia kembali menghafalkannya sehingga ia benar-benar mencapai nilai hafalan yang valid.[14]
f. Metode Fahmul Mahfudz
Metode Fahmul Mahfudz yaitu sebelum ayat-ayat dihafal penghafal dianjurkan untuk memahami makna setiap ayat, sehingga ketika menghafal penghafal merasa paham dan sadar terhadap ayatayat yang diucapkannya.
g. Metode Sima’i
Metode sima’i, yaitu mendengarkan bacaan untuk dihafalkan dengan cara:
1. Mendengar dari guru yang membimbing dan mengajarnya.
2 Merekam terlebih dahulu ayat-ayat yang akan dihafalkan ke dalam pita kaset sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan secara seksama sambil mengikuti secara perlahan-lahan. Metode ini dapat dilakukan dengan dua alternatif :
- Mendengar dari guru yang membimbingnya, terutama bagi penghafal tuna netra atau anak-anak. Dalam hal ini, instruktur dituntut untuk lebih berperan aktif, sabar dan teliti dalam membacakan dan membimbingnya, karena ia harus membacakan satu persatu ayat untuk dihafal, sehingga penghafal mampu menghafal secara sempurna. Baru kemudian dilanjutkan dengan ayat berikutnya.
- Merekam lebih dahulu ayat-ayat yang akan dihafalkannya ke dalam pita kaset sesuai dengan kebutuhan dalam kemampuannya. Kemudian kaset diputar dan di dengar dengan seksama sambil mengikuti secara perlahan-lahan. Kemudian diulang lagi dan diulang lagi, dan seterusnya menurut kebutuhan sehingga ayat-ayat tersebut benar-benar hafal di luar kepala. Setelah hafalan dianggap cukup mapan barulah berpindah kepada ayat-ayat berikutnya dengan cara yang sama, dan demikian seterusnya. Metode ini akan sangat efektif untuk penghafal tuna netra, anak-anak, atau penghafal mandiri atau untuk takrir (mengulang kembali) ayat-ayat yang sudah dihafalnya. Tentunya penghafal yang menggunakan metode ini, harus menyediakan alat-alat bantu secukupnya, seperti tape recorder, pita kaset dan lain-1ain.[15]
h. Metode Talaqqi
Metode selanjutnya ialah metode talaqqi, sebagaimana saya kutip dari jurnal karangan Cucu Susianti yang berjudul “Efektifitas Metode Talaqqi dalam meningkatkan kemampuan menghafal Al-Quran anak usia dini”. Berbeda dengan metode yang telah saya paparkan di atas, metode ini di teliti untuk melihat kemampuan menghafal dengan memakai metode talaqqi khususnya bagi anak usia dini.
Metode talaqqi adalah cara yang digunakan dalam mengajarkan tahfidz Qur‟an dimana guru dan murid berhadapan langsung. Hal ini dilakukan untuk menghindari kekeliruan dan kesalahan dalam mengucapkan huruf-huruf Al-Qur‟an. Dengan cara talaqqi, guru dapat menjelaskan bagaimana cara mengucapkan makhroj atau tempat keluarnya huruf, kemudian mencontohkan bunyi huruf sehingga siswa dapat langsung menirukan huruf-huruf atau ayat-ayat Al-Qur‟an yang dibacakan serta dapat dilakukan berulang-ulang sampai hafalan tersebut tersimpan di dalam memori ingatan anak. Dengan cara seperti ini, pendidik juga dapat memperhatikan bagaimana anak mengucapkan huruf-huruf Al-Qur‟an secara fasih dengan kaidah tajwid yang benar. Pendidik dapat memantau sejauh mana hafalan anak terhadap ayat-ayat Al-Qur‟an yang sudah dihafalnya.
Metode talaqqi yang diterapkan pada anak usia dini, mengacu pada pendekatan 5 M sebagaimana pembahasan di atas, yaitu:
a. Menerangkan (menjelaskan). Ketika hendak memulai pelajaran menghafal Al-Quran, pendidik sebaiknya mengkondisikan anak dengan duduk melingkar saling berhadapan dengan pendidik dan teman-teman yang lain sehingga perhatian anak-anak tertuju dalam wilayah lingkaran. Di dalam lingkaran pendidik dapat memberikan penjelasan tentang materi yang akan disampaikan dengan perencanaan pembelajaran yang sudah disiapkan. Pendidik menjelaskan isi kandungan Al-Quran sesuai dengan ayat yang disampaikan untuk menarik minat anak sehingga anak-anak terkesan. Dalam menyampaikan penjelasan materi, pendidik menyampaikannya dengan suara yang cukup terdengar oleh anak-anak yang ada di dalam lingkaran.
b. Mencontohkan. Sebaiknya pendidik bertanya pada anak-anak apakah mereka telah siap untuk menghafal Al-Quran atau belum, pijakan ini perlu dilakukan agar pada saat kegiatan menghafal berlangsung tidak ada anak yang main-main. Setelah anak-anak siap mengikuti pelajaran, pendidik memberi contoh terlebih dahulu ayat Al-Quran yang akan dihafal, kemudian anak diajak untuk menirukan bacaan tersebut secara berulang-ulang sampai makhorijul huruf dan tajwidnya benar-benar fasih. Guru akan menyuruh anak/siswa membacakan ayat-ayat Al-Quran atau penggalan bacaan Al-Quran yang dicontohkan tadi secara bergantian dengan waktu tidak terlalu lama untuk menghilangkan kejenuhan saat menghafal Al-Quran.
c. Menirukan. Anak-anak harus menirukan bacaan persis yang dicontohkan oleh pendidik, dari segi lagam/lagu, makhraj hurufnya, sifat hurufnya, panjang dan pendek bacaan dengan kaidah tajwid yang benar. Pendidik hendaknya membimbing anak-anak dengan penuh kesabaran dan telaten agar bacaan yang ditiru oleh anak benar-benar sesuai dengan bacaan yang dicontohkan guru.
d. Menyimak. Anak-anak yang menunggu giliran dianjurkan untuk menyimak bacaan temannya sehingga tidak ada anak yang mengobrol atau bermain-main sendiri apalagi mengganggu temannya.
e. Mengevaluasi. Evaluasi kegiatan dilakukan pada saat guru mentalaqqi anak satu persatu, dengan demikian guru dapat mengetahui bagaimana kulaitas bacaan anak baik dari segi pengucapan makhorijul huruf maupun kaidah tajwid, serta guru dapat memantau perkembangan hafalan anak, apakah hafalannya dapat dilanjutkan pada ayat berikutnya atau hafalan tersebut diulang kembali hingga benar-benar hafal.[16]
i. Metode ODOA (One Day One Ayat)
Metode one day one ayat Metode ODOA digagas oleh Ustad Yusuf Mansur, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Quran Nusantara, Jakarta. Menurut Ustad Yusuf Mansur, “One Day One Ayat adalah program menghafal 1 hari 1 ayat yang dimulai dari surah-surah pendek”. namun untuk ayat yang pendek maka bisa satu hari lebih dari satu ayat, dan untuk ayat yang cukup panjang dihafalkan dalam waktu dua hari hingga benar-benar hafal.[17]
Metode ODOA telah diteliti oleh Khoirul Anwar dan Mufti Hafiyana pada jurnalnya yang berjudul “Implementasi Metode ODOA (One Day One Ayat) dalam Meningkatkan Kemampuan Menghafal Al-Quran”. Dalam hal ini saya akan menguraikan lebih banyak tentang metode ODOA dibandingkan metode yang sudah tertulis sebelumnya
Pelaksanaan Menghafal Al-Quran dengan Metode ODOA
Maksud dari pelaksanaan tahfidzul Quran disini yakni proses menghafalkan al-Quran atau kegiatan menghafalkan al-Quran. Dalam hal ini akan dijelaskan langkah-langkah menghafal al-Quran dengan menggunakan metode ODOA (One Day One Ayat). Cara kerja dari metode ini ialah menghafalkan satu ayat selama satu hari sampai benar-benar hafal di luar kepala, kemudian pada hari kedua dilanjutkan menghafal ayat ke-2 sampai hafal diluar kepala, terus berlanjut di hari-hari berikutnya. Namun, sebelum melanjutkan pada ayat selanjutnya penghafal harus mengimbangi dengan mengulang-ulang ayat yang sudah dihafal agar tidak lupa.
Secara teknis, langkah-langkah penerapan metode ODOA terbagi dalam sembilan langkah, diantaranya yaitu :
1. Ayat yang akan dihafalkan harus ditulis (dengan huruf Arab beserta huruf Latinnya) terlebih dahulu di papan tulis.
2. Ayat yang sudah ditulis dibaca terlebih dahulu sepenggal demi sepenggal oleh guru atau pembimbing dengan suara lantang, jelas dan fasih (makhraj dan tajwidnya) sambil diikuti oleh siswa.
3. Guru atau pembimbing meminta siswa untuk mengulang penggalan ayat dengan melihat tulisan ayat di papan tulis.
4. Sebagian ayat yang ditulis, kemudian dihapus hingga yang tersisa hanya huruf-huruf awal (yang menjadi huruf kunci) dari penggalan ayat tersebut.
5. Guru atau pembimbing kembali meminta siswa untuk mengulang penggalan ayat dengan melihat huruf-huruf kunci di papan tulis.
6. Setelah siswa benar-benar hafal, semua huruf-huruf kunci di papan tulis dihapus.
7. Guru atau pembimbing mencontohkan hafalan ayat tadi dengan menggunakan irama yang sudah ditetapkan.
8. Guru atau pembimbing menunjuk siswa satu per satu untuk menghafal ayat tadi dengan menggunakan irama di depan kelas.
9. Dengan teknik ini, secara otomatis siswa telah membaca sebanyak jumlah teman-temannya yang ada di kelas, karena masing-masing siswa menyimak saat temannya menghafal ayat tadi.
Selain itu Masagus mengemukakan bahwa dalam penerapan metode One Day One Ayat dapat menerapkan langkah langkah pelaksanaanya sebagai berikut:
1. Guru membacakan secara berulangulang ayat yang dihafal dengan dipotong-potong.
2. Guru dapat memperdengarkan ayat yang dihafal dengan media elektronik seperti memakai MP3.
3. Kemudian anak disuruh mengulang bacaan ayat tadi.
4. Usahakan untuk bersabar dan tidak tergesa-gesa. Dari pendapat di atas, dapat ditegaskan bahwa langkah-langkah pelaksanaan metode One Day One Ayat dapat diterapkan dengan tujuan masing-masing pihak (guru maupun anak) melakukan komunikasi dan kreativitas guru dalam menggunakan metode ini.[18]
Selanjutnya, metode yang telah dipaparkan oleh Abul A’la Al Maududi dan kawan-kawan pada jurnalnya yang berjudul “Metode Tafizh Al-Quran Bagi Pelajar dan Mahasiswa”. Sebagai berikut:
Metode efektif tahfizh al-Qur’an, di antaranya: Pertama, Membaca al-Qur’an sebanyak 5 Juz. Hal yang paling fundamental untuk kesuksesan dalam tahfizh al-Qur’an untuk pelajar dan mahasiswa adalah membaca al-Qur’an sebanyak 5 Juz setiap hari, se-hingga dalam waktu satu pekan bisa selesai mengkhatamkan al-Qur’an. Bagi pelajar dan mahasiswa yang membaca al-Qur’an sehari 5 juz maka kesuksesan untuk menghafal al-Qur’an secara sempurna 30 juz akan menjadi mudah karena lidah dapat dengan lancar melantunkan bacaan al-Qur’an dan otak akan menyerap bacaan al-Qur’an saat melakukan tilawah secara berkesinambungan. Hitungan durasi waktu rata-rata untuk tilawah al-Qur’an 1 juz selama setengah jam atau 30 menit dengan bacaan al-hadr. Sehingga dalam durasi waktu 2.5 Jam dapat menyelesaikan tilawah harian sebanyak 5 juz. Tilawah al-Qur’an 5 juz ini dibagi waktunya menjadi empat waktu dalam satu hari. Setengah jam setelah shalat dzuhur (1 juz), setengah jam setelah shalat ashar (1 juz), 1 jam setelah shalat isya (2 juz) dan kemudian setengah jam sebelum tidur (1 jam). Hal ini dilakukan kontinu dan berkesinambungan sampai proses menghafal al-Qur’an 30 Juz selesai dihafalkan dan hal ini sudah dibuktikan kepada peserta ujicoba tahfizh al-Qur’an dan hasil yang diperoleh para peserta tahfizh dapat lebih mudah menghafalkan al-Qur’an lebih baik.
Kedua, Mendengar bacaan al-Qur’an melalui multimedia. Metode mendengar merupakan cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. dan Malaikat Jibril a.s. sebagaimana QS. al-Qiyamah/75: 17-18.
Dalam proses menghafal al-Qur’an metode mendengar sangat membantu dalam menghafal ayat-ayat al-Qur’an yaitu dengan cara mendengarkan al-Qur’an secara beru-lang-ulang dan terus menerus. Bila sulit mendapatkan seorang pembimbing yang bagus bacaannya maka proses mendengar al-Qur’an dapat dilakukan dengan penggunaan mul-timedia seperti media elektronik yang sangat maju saat ini seperti melalui CD, DVD, Youtube, Internet, i-phone dan lain sebagainya. Dengan fasilitas teknologi yang terus berkembang sangat mudah bagi para penghafal al-Qur’an untuk dapat mendengarkan bacaan al-Qur’an para hafizh dan qari baik lokal maupun internasional.
Abduldaem al-Kahîl di dalam makalahnya menuturkan ketika mendengarkan al-Qur’an beberapa bulan dia merasakan ada perubahan besar sekali dalam tubuhnya. Ia merasakan hampir seluruh organ dalam tubuhnya ikut bergetar saat mengikuti suara al-Qur’an dan akhirnya sukses menghafal al-Qur’an dengan cara mendengarkan pada seorang qari yang hafal al-Qur’an dan mengulang-ngulang bacaan surat dalam al-Qur’an agar lebih mudah diingat.
Mendengarkan al-Qur’an merupakan suatu hal yang penting. Pada tahun 1983 seorang ilmuwan Hendrick William mengungkapkan bahwa sel otak berpengaruh secara positif atau negatif terhadap sebuah peristiwa dan sinyal suara tertentu. Ketika diperdengarkan suara al-Qur’an maka didapati bahwa sel otak ikut berinteraksi dengan suara al-Qur’an. Sel otak dalam kondisi selalu bergetar dalam waktu yang sama dan get-aran yang terjadi setiap selnya secara teratur.
Ketiga, Talaqqi Syafahiyyah. Metode efektif dalam tahfizh al-Qur’an adalah ber-temu langsung antara guru dengan murid. Metode ini merupakan metode yang paling efektif di antara lima metode lain. Metode talaqqi syafahiyah semakin memudahkan pihak yang belajar dan yang mengajarkan atau pihak guru dan murid. Manusia merupa-kan kesatuan sehingga akan ditemukan kaitan erat antara perkembangan aspek fisik-motorik, mental, emosi dan sosial. Variasi dalam perkembangan ini banyak hubungann-ya dengan faktor kematangan, belajar atau pengalaman, bawaan dan faktor lingkungan. Talaqqi Syafahiyah melibatkan peran psikologi karena berfokus pada perilaku dan berbagai proses mental serta bagaimana perilaku dan berbagai proses mental ini dipengaruhi oleh kondisi mental organisme dan lingkungan eksternal.
Metode talaqqi dipelajari dari guru-guru al-Qur’an yang berkompeten sebagaimana metode yang telah ditetapkan oleh Allah dalam menjaga orisinalitas dari perubahan-perubahan serta pembacaan al-Qur’an yang salah. Sebagaimana Allah ber-firman di dalam QS. al-Hijr/15: 9 “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” Dalam rangka menjaga kemurni-an al-Qur’an, Rasulullah S.A.W. semasa hidupnya selalu tadarus al-Qur’an dan me-nyimakkannya pada malaikat Jibril a.s. di setiap bulan Ramadhan dan bahkan sebelum Nabi wafat ia telah mentashihkan kembali kepada malaikat Jibril a.s. sebanyak dua kali. Tashih dimaksudkan tidak hanya sebatas hafalan al-Qur’an yang ada akan tetapi termasuk tata cara membaca al-Qur’an. Mempraktikkan makhârijul hurûf dan shifâtul hurûf dan cara yang paling sempurna dan baik. Sebagaimana dikatakan oleh al-Karmâni bahwa hikmah tadarus al-Qur’an yang dilakukan oleh Rasulullah S.A.W. pada malaikat Jibril a.s. adalah dalam rangka memperbaiki dan mentashih huruf-huruf al-Qur’an disamping menjadi tuntunan bagi setiap orang yang belajar al-Qur’an untuk senantiasa membaguskan bacaan al-Qur’an.
Keempat, Menghafal al-Qur’an satu halaman dibagi tiga bagian. Di dalam al-Qur’an standar Mushaf Rasm Utsmani satu halaman terdiri dari 15 baris. Peserta tahfizh al-Qur’an dapat membagi satu halaman tersebut dengan 3 bagian yaitu masing-masing 5 baris. Selanjutnya fokus kepada sepertiga bagian pertama untuk memulai membaca al-Qur’an. Peserta tahfizh dapat membaca al-Qur’an dengan baik lima baris pertama. Kemudian teknis menghafalnya yaitu peserta tahfizh al-Qur’an membaca secara terus menerus berkali-kali dua-tiga kali secara bertahap mulai dari baris pertama dan kemudian dihafal. Selanjutnya fokus untuk baris kedua dengan membaca berkali-kali dan kemudian dihafal dan seterusnya sampai baris ketiga, keempat dan kelima dengan cara yang sama. Kemudian peserta tahfizh dapat menghafal dengan metode yang sama untuk selanjutnya menghafal 1/3 bagian kedua dan 1/3 bagian terakhir hingga selesai satu halaman dapat dihafal dengan baik dan lancar.
Kelima, Menyambung bacaan yang sudah dihafal ayat demi ayat, halaman demi halaman dan surat demi surat. Di dalam menghafal al- Qur’an tentunya ayat demi ayat merupakan satu rangkaian bacaan al-Qur’an yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, diperlukan usaha menghafal dengan proses menyambung ayat demi ayat. Maksud-nya adalah menyambung bacaan secara lisan antara akhir-akhir ayat dengan awal ayat berikutnya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membuka mushaf al-Qur’an pada ayat-ayat yang akan dihafal dan memusatkan pada ayat terakhir dari setiap ayat dan awal ayat berikutnya. Dengan fokus dan konsentrasi penuh peserta tahfizh al-Qur’an dapat melakukan buka tutup mushaf secara perlahan-lahan menyambung ayat demi ayat, hal-aman demi halaman sampai surat demi surat dengan baik. Pengalaman peneliti di da-lam proses menyambung antara ayat yang satu dengan ayat yang lain adalah membaca al-Qur’an atau muraja’ah hafalan dengan cara lambat (al-Tartîl), tidak membaca dengan bacaan cepat (al-hadr). Karena dengan membaca secara lambat secara perlahan-lahan ayat yang sudah dibaca dapat terprogram dengan baik di dalam otak sehingga ketika para peserta diminta untuk menyambung suatu ayat mereka seketika dapat mencerna ayat yang diajukan (dapat langsung terkoneksi).
Keenam, Muraja’ah al-Qur’an setelah shalat Maghrib dan satu jam sebelum waktu shubuh dengan lambat (al-Tartil) secara kontinu. Sebagian orang dan para penghafal al-Qur’an mengungkapkan bahwasanya menghafal al-Qur’an itu lebih mudah daripada menjaganya. Sebab menjaga hafalan itu merupakan kewajiban yang harus terus dijaga sampai selamanya. Hal inilah yang banyak membuat sebagian orang takut untuk menghafal al-Qur’an bahkan menjadi virus mematikan yang membuat pesimis untuk menghafal al-Qur’an sehingga sebagian mereka ketakutan untuk menghafal al-Qur’an.[19]
[2] Fithriani Gade, “Implementasi Metode Takrar Dalam Pembelanjaran Menghafal Al-Quran,” Jurnal Ilmiah Didaktita 14, no. 2 (2014): 423–24.
[3] Cucu Susianti, “Efetivitas Metode Talaqqi Dalam Meningkatkan Kemampuan Menghafal Al-Quran Anak Usia Dini,” Tunas Siliwangi: Jurnal Program Studi Pendidikan Guru PAUD STKIP Siliwangi Bandung 2, no. 1 (2017): 5–6.
[4] Mughni Najib, “Implementasi Metode Takrir Dalam Menghafalkan Al-Quran Bagi Santri Pondok Pesantren Punggul Nganjuk,” Jurnal Pendidikan Dan Studi Keislaman 8, no. 3 (2018): 335–36.
[5] Sa’dullah, Sembilan Cara Praktis Menghafal Al-Quran (Jakarta: Gema Insani, 2008), 54.
[6] Najib, “Implementasi Metode Takrir Dalam Menghafalkan Al-Quran Bagi Santri Pondok Pesantren Punggul Nganjuk,” 337–38.
[7] Mohammad Irwansyah, Strategi Menghafal Cepat (Yogyakarta: Pustaka Amani, 2009), 1.
[8] Abdul Azis Al-Rauf Al-Hafidh, Kiat Sukses Menjadi Hafidh Al-Quran (Bandung: Syamil, 2004), 51.
[9] Gade, “Implementasi Metode Takrar Dalam Pembelanjaran Menghafal Al-Quran,” 423.
[10] Al-Rauf Al-Hafidh, Kiat Sukses Menjadi Hafidh Al-Quran, 87.
[11] Susianti, “Efetivitas Metode Talaqqi Dalam Meningkatkan Kemampuan Menghafal Al-Quran Anak Usia Dini,” 11.
[12] Gade, “Implementasi Metode Takrar Dalam Pembelanjaran Menghafal Al-Quran,” 336.
[13] Muhaimin Zubaid, Bimbingan Praktis Menghafal Al-Quran (Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru, 1996), 489.
[14] Najib, “Implementasi Metode Takrir Dalam Menghafalkan Al-Quran Bagi Santri Pondok Pesantren Punggul Nganjuk,” 336.
[15] Susianti, “Efetivitas Metode Talaqqi Dalam Meningkatkan Kemampuan Menghafal Al-Quran Anak Usia Dini,” 10–11.
[16] Susianti, 14–15.
[17] Anwar and Hafiyana, “Implementasi Metode ODOA (One Day One Ayat) Dalam Meningkatkan Kemampuan Menghafal Al-Quran,” 185.
[18] Anwar and Hafiyana, 186–87.
[19] Maududi, Mujahidin, and Hafidhuddin, “Metode Tahfizh Al-Quran Bagi Pelajar Dan Mahasiswa,” 10–13.
Keren kak, semoga berkah. Amin
ReplyDeleteTerimakasih,
Delete